Oct 13, 2019

Bagaimana Menjadi Influencer?

Gak terasa Indonesia Knowledge Forum (IKF) sudah masuk tahun kedelapan! Acara yang di gelar di Ritz Carton Pasific Place 8-9 Oktober 2019, juga menghadirkan banyak narasumber yang expert di bidangnya, terlebih lagi mereka masih sangat muda.

Gue sendiri berkesempatan untuk nyoba ikut seminar dengan pembicara Giring Ganesha, meski telat masuk hehe, terus iseng-iseng ternyata ada Radityadika juga di sesi selanjutnya, maka gue duduk anteng nyimak perbincangannya.

Tips Raditya Dika Menjadi Influencer

Langkah awal untuk menjadi influencer adalah melihatdiri kita sebagai media. Media seperti apa yang ingin dibangun. Misal ada anak-anak muda yang suka dengan traveling jadi keseruan traveling yang dibagikan di platom social medianya, mulai dari keseruan perjalannya, cara pergi ke lokasi yang satu ke yang lainnya, sehingga iklan yang masuk adalah iklan dari travel agent.

Jadi saat memulai untuk menjadi influencer maupun youtuber sekalipun yang harus dipersiapkan adalah niche spesifik (konsep) yang akan diberikan kepada audience!
Jika berbicara dengan konten dalam hal konteks capital (tidak melulu berbicara tentang uang) namun modal hidup kita pun adalah berasal dari keresahan.

Jadi ketika Raditya Dika duduk mempersiapkan materi untuk stand up yang baru, keresahan yang dia rasakan saat itu adalah, memasuki fase hidup ketika menjadi meliki status baru sebagai orang tua, jadilah hal tersebut yang dijadikannya sebagai modal keresahannya ketika di panggung, youtube maupun di instagram.

Raditya Dika menjadi narasumber pada IKF 2019
“Nah tiap orang pasti punya keresahan dalam dirinya, maka keresahan itulah yang  menjadi capital dan bisa dituangkan di media yang berbeda-beda entah di instagram, twitter, facebook maupun youtube,” ungkap Radit.

Namun jika kalian berpikiran “Radit sih enak, konten apapun yang dibuat pasti penontonnya membludak!

Ada hal yang kalian lupa, semua itu butuh proses, Radit pun bisa sampai hingga dirinya bisa menjadi media yang cukup besar itu semua butuh proses bertahun-tahun, terhitung Radit sudah memulai untuk konten youtube sejak 10 tahun lalu, buku pertamanya muncul pada tahun 2005. Jadi itu semua dibangun dengan sangat lama dan tidak instant.

Sebaiknya konten yang ditawarkan merupakan konten yang berbeda! Tidak masalah meski bukan jadi yang terbaik! Cara menjadi beda itulah yang mesti diulik lebih dalam. Mau kedepannya menjadi viral atau enggak, hal yang perlu diperhatikan lagi adalah tractionnya! Apakah audience lengket dengan konten yang kita buat?!

Radit juga menuturkan, “misal contoh ada satu video di youtube yang ngeboom banget viewnya sampai 10 juta, tapi dengan impresi yang didapat adalah nih orang aneh deh!”
Hal terpenting yang harus diingat ketika kita membuat konten adalah bukan membuat konten yang terbaik, namun konten yang bisa mendatangkan traction dan lengket kepada audiencenya.

Bahkan sebuah penelitian di Amerika, anak muda di sana lebih percaya pada youtuber ketimbang dengan selebriti yang ada di film atau pun di Tv. Karena memang tingkat kedekatannya itu terbangun dengan luar biasa. Seperti setiap agi kita lihatnya vlog seseorang, kita merasa mendapat koneksi yang istimewa, ketimbang kita melihat di TV yang semuanya serba dipoles dan terlihat sangat rapi. Sementara kita kangen melihat konten-konten yang genuine dan apa adanya, ngobrol di depan layar sehingga koneksi kedekatannya dapat.

Nah ketika kedekatannya sudah dapat, ibaratnya kalian mau jualan apapun bisa! Mau bikin bisnis, jadi! Jadi yang perlu diperhatikan pada saat memulai membuat konten adalah bagaimana membuatnya menjadi berbeda serta memiliki traction.

Orang Biasa Bisa Jadi Influencer?
 
Tentu jelas sangat bisa! Caranya adalah dengan menjadi expert di bidangnya masing-masing. Contohnya ada salah satu youtuber yang menjadi investment banker sebagai analis. Jadi ketika setiap hari setelah usai pulang kerja Dia membuat video tentang investment untuk pemula!

Bahkan uang yang Dia dapatkan dari youtubenya jauh lebih besar dari gajinya. Namun Dia tetap terus bekerja di Bank, karena di sanalah Dia belajar dan menggali ilmu yang bisa Dia gunakan untuk materi kontennya.




Eh iya berbicara investasi untuk pemula, BCA juga mengeluarkan aplikasi namanya WELMA (Wealth Managament BCA) untuk membeli produk investasi reksadana dan obligasi, melaluin aplikasi ini BCA tuh ingin menumbuhkembangkan semangat dan kemauan masyarakat untuk gemar investasi.

Di sisi lain, BCA ingin mendukung program pemerintah melalui OJK untuk terus menggalakkan Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia (SNLKI Revisit 2017) guna mengedukasi dan mewujudkan indeks literasi keuangan yang tinggi dari masyarakat Indonesia sehingga dapat memanfaatkan produk dan layanan jasa keuangan yang sesuai untuk mencapai kesejahteraan. 

Sebagai perbankan swasta andalan masyarakat, BCA ingin terus mendukung program pemerintah dalam rangka edukasi literasi keuangan. BCA juga mencermati pentingnya investasi bagi anak muda khususnya, maka kami tergerak untuk berinovasi dalam menciptakan aplikasi berbasis digital untuk memudahkan masyarakat dalam melakukan investasi.

1 comment:

  1. Hmmmm jadi gitu ya vir. Hmmmmmm. Coba adain les privat dong. *dihajar

    ReplyDelete

Naek ke Genteng pake baju batik

batiknya dibeli di pulo gedong

Abang Ganteng dan Mpok yang cantik

kalo udah baca jangan lupa kasih KOMEN doonk